Minggu, Maret 20, 2016

Tour ke Korea



Di awal bulan Februari yang lalu tepatnya saat libur Imlek, saya mendapat rejeki bisa jalan-jalan ke Korea gratis, dibayarin perusahaan. Sebagai penggemar acara-acara tv Korea tentu saja saya menyambutnya dengan senyum lebar di wajah. 

Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya traveling dalam sebuah group tour, kali ini saya ingin mempersiapkan diri baik-baik terutama untuk mengisi acara bebas supaya efektif dan bukan cuma celingukan bingung mau ngapain.

Alhasil dengan meluangkan waktu browsing sana sini, saya sudah punya list what to do di tiap-tiap tempat acara bebas.Berikut kegiatan apa-apa saja yang saya lakukan dalam mengisi waktu bebas tersebut, semoga bermanfaat buat yang sedang mempersiapkan tour ke Seoul :

Hari 1 : 

Itinerary : Nami Island.
Salju buatan
    Danau membeku 

    Susu rasa pisang
    Acara bebas saya di hari pertama ini diisi dengan hunting foto di Nami Island. Kami keliling pulau dengan naik sepeda, dilanjutkan foto-foto di taman bersalju (buatan) dan danau beku (beneran). Disini ada banyak warung yang menjual jajanan tapi karena kenyang saya ngga beli apa-apa. 

    Dalam perjalanan ke hotel, bis kami berhenti di sebuah rest area, saya membeli aneka snack merk lokal, salah satunya susu pisang yang kesohor itu. Ternyata saya ngga terlalu suka, rasanya ya gitu deh, artifisial banget. Barang favorit yang paling banyak dibeli disini adalah hand warmer berbentuk bantalan seukuran telapak tangan, manfaat banget buatdipegang2 di saku jaket biar telapak tangan kita ngga beku.

    Malamnya, kami nongkrong di mini market samping hotel kami di kota Sokcho. Saya dan teman-teman makan mie instant yang terkenal pedas banget. Penjaga minimarketnya ramah banget, dia ngajarin kami cara masak mie pake microwave supaya enak. Ternyata makan mie pedes di udara dingin bisa meningkatkan level kenikmatannya sampai pol.


    Hari-2:
    Itinerary : Mt. Seorak, Everland theme park (acara bebas), Dongdaemun Market (acara bebas)
    EVERLAND Theme Park
    Berhubung hari kedua ini banyak acara bebasnya, maka saya fokuskan rencana belanja di hari ini. Acara bebas pertama di Everland Theme Park. Seperti theme park pada umumnya disini juga ada banyak toko-toko, termasuk toko kosmetik brand Korea yang diskonnya lumayan.  
    Dongdaemun
    Belanja selanjutnya adalah di Dongdaemun, tour guide membawa kami ke AMPM Mall, disana ada toko souvenir besar yang penjualnya bisa aneka bahasa termasuk bahasa Indonesia, bahkan menerima Rupiah. Selain souvenir standar, ada juga beberapa souvenir khas Korea antara lain : peralatan makan (sumpit, sendok dan mangkok logam), juga gunting kuku andalan ekspor Korea (yang di masa lalu telah menyelamatkan ekonomi Korea).  Sesudah itu saya hunting produk kosmetik Korea (lagi) dan beli mainan anak Pororo. Saya kurang beruntung ngga berhasil belanja baju dan tas di Dongdaemun, penjualnya selalu memberi harga awal tinggi banget, jadi bingung deh memulai tawar menawarnya.

    Hari 3:
    Itinerary : Gyeongbok Palace, toko ginseng, toko kosmetik merk Odbo, Dong Hwa Duty Free Dept Store. Myeongdong shopping street (acara bebas) diakhiri makan malam Bibap show (pertunjukan komedi di panggung yang sumpah lucu banget). Makan malam di restoran ayam ginseng rebus.

    Acara bebas di Dong Hwa Duty Free di luar dugaan ternyata sangat menyenangkan, di sini kita bisa membeli aneka produk branded Korea, lengkap dari produk fashion sampe makanan, dari yang harganya terjangkau sampai yang muwahal. Saya sendiri langsung ke Etude House buat beli aneka titipan dan oleh-oleh, ternyata harganya memang jauuuh lebih murah daripada di Jakarta. Dan toko kosmetik Korea itu ngga pelit kasih free tester dan bonus (biasanya paper mask), misalnya beli satu pak paper mask isi 10 gratis 10 lagi,  beli bedak gratis satu pak paper mask dst... Kalap deh para wanita... 

    Acara bebas tahap 2... begitu tour guide melepas kami di Myeongdong saya langsung mencari  SPAO Dept Store untuk membeli tas laptop lucu hasil browsing di Instagram (dan lagi sale pula), lalu beli kosmetik Korea lagi (kosmetik Korea itu emang menggoda iman banget...) dan beli jajanan khas Korea di pedagang pinggir jalan. List makanan yang saya inginkan langsung saya keluarkan.
    Suasana Myeongdong
    Malamnya, walaupun udara minta ampun dinginnya, beberapa teman tetap jalan-jalan ke Dongdaemun buat belanja oleh-oleh yang belum kesampaian. Inilah enaknya tinggal di hotel dekat Dongdaemun, jam berapapun mall-nya tetap jualan.

    Hari 4 :

    Itinerary: Tokyo TV Tower, toko obat, toko kimchi, makan siang, kembali ke Jakarta.

    Kami makan siang di restoran Korea dekat Incheon airport, dan kelihatannya mayoritas pengunjungnya rombongan tour Indonesia. Disini ada toko oleh-oleh terdiri dari beberapa lantai, mereka menjual aneka snack dan souvenir lengkap deh. Barang belanjaan para turis itu packing-nya pake kardus rapi ala ala toko souvenir di Indonesia. 


    Dan saat di bandara, saya melihat rombongan-rombongan tour yang membawa kardus-kardus oleh-oleh sejenis...turis Indonesia semua. Hidup oleh-oleh!

    Sabtu, Januari 30, 2016

    Budget Travel : Alsace Wine Route

    Alsace adalah nama sebuah provinsi di Perancis yang berbatasan langsung dengan Jerman. Sejarah masa lalunya cukup panjang, pernah dikuasai Jerman lalu diambil alih oleh Perancis. Penduduknya sih kelihatannya lebih sebagai orang Perancis daripada Jerman, walaupun demikian makanan dan arsitektur di kota ini mirip banget dengan Jerman.

    Alsace terkenal ke seluruh dunia sebagai penghasil anggur dan banyak turis datang ke sini untuk wisata minum anggur, mereka datang dari satu kota ke kota lain untuk wine tasting . Rute kunjungan ini terkenal sebagai Alsace wine route atau Alsatian vineyard route.

    Gue traveling di sepanjang rute ini dengan naik mobil, tujuan kami bukan untuk icip-icip wine (maklum lidah Jowo ngga doyan alkohol) tapi lebih untuk mengunjungi kota-kota kecil yang cantik sepanjang jalan.

    Kami memulai perjalanan dari Strasbourg (ibukota Alsace) menuju arah Selatan, keinginan hati ingin mengunjungi semua kota-kota yang ada di peta tapi yang terealisasi cuma sempat mampir di Obernai, Chateau du Haut-Koenigsbourg, Ribeauville dan Colmar.  Total perjalanan 3 hari 2 malam, berikut ini cerita kunjungan kami.



    Day 1 : STRASBOURG


    Petite France dilihat dari Barage Vaubhan

    Strasbourg adalah ibukota provinsi Alsace dan terkenal bukan saja karena keindahan kota tuanya (yang bernama Petite France), canal tournya, atau kulinernya tapi juga karena di kota inilah terletak gedung kantor Parlemen Uni Eropa. Jadi secara politis kota ini merupakan kota yang sangat penting di Eropa.

    Gue hanya memiliki waktu satu hari saja disini sehingga gue usahakan untuk bisa jalan-jalan dan menikmati kota ini semaksimal mungkin.

    Alat transportasi yang kami gunakan adalah trem, kami membeli tiket trem 24H- Trio seharga 6,80 Euro yang berlaku 24 jam untuk max 3 orang.

    Berikut rute jalan-jalan kami :

    10.00-14.00

    Dari hotel kami jalan kaki ke Barrage Vaubhan, semacam benteng di atas air. Dari atas benteng ini kita bisa melihat kawasan Petite France dengan bangunan-bangunan 'half timbered' dan menara gereja di kejauhan, di area ini kami menghabiskan waktu cukup lama, jalan-jalan santai sambil foto sana sini. Buat turis yang males jalan dan mau melihat-lihat kota ini dengan naik boat, ada Canal Tour yang cukup terkenal yang start-nya dari tempat ini.
    Akhirnya kami ketemu Cathedral Notre Dame Strasbourg dan duduk-duduk sambil buka bekal makan siang di halaman sampingnya.


    Atas : Barrack Vaubhan dan Deretan rumah-rumah cantik di Petite France 
    Bawah : Cathedral Notre Dame Strasbourg dan makanan khas Flammekueches 


    14.00 - 15.00
    Dari sana kami mampir ke Flam's restoran untuk mencoba makanan khas Alsace bernama flammekueches. Sejenis pizza versi tipker (tipis kering).

    (Alamat : 29 Rue des Frères, 67000 Strasbourg, France).
    Menurut gue rasanya estede alias standard alias B alias Biasa aja.

    Sesudah perut kenyang kami siap jalan-jalan lagi, tujuan selanjutnya : Parc de L'Orangerie. Karena lokasinya lumayan jauh dan ngga mungkin jalan kaki. Kami naik trem dari stasiun Galia.. Tremnya nyaman, bersih dan announcer-nya suara anak kecil Perancis yang lucu dan menggemaskan.

    Oiya, di Stasiun Galia gue melihat ada gereja cakep di seberang sungai.

    15.00-17.00
    Berada di Parc L'Orangerie adalah serasa menemukan oasis sesudah seharian gue berada diantara keruwetan aneka jenis turis di kota tua Strasbourg. Parc L'Orangerie adalah taman yang terawat dengan bunga aneka warna khas taman-taman di Perancis, tentunya dengan air mancur di tengahnya., lokasinya berada di belakang sebuah gedung bernama Pavillon Joséphine. Yang unik, di setiap cerobong asap gedung ini ada sarang burung bangaunya. Belakangan gue baru memperhatikan kalau ini adalah ciri khas daerah Alsace, dimana ada cerobong asap disitu bangau bersarang.

    Station trem terdekat : Droit de L'Homme.

    Parc L'Orangerie , Atas : Pavilion Josephine dan sarang burung bangau
    Bawah : taman bunga dan kolam air mancur
    17.00-20.00
    Sesudah puas duduk-duduk di taman kami segera kembali ke stasiun tram. Tujuan kali ini pengen ke shopping area di sekitar stasiun trem Homme de Ver, tapi kami berubah pikiran dan turun di stasiun kereta Gare Centrale. Stasiun ini nyambung dengan stasiun utama Strasbourg dimana kereta antar kota / antar negara lewat.

    Eh ternyata stasiun keretanya keren. Suka! Dari situ kami jalan kaki balik ke arah Petite France, mampir di Carrefour untuk belanja makanan buat makan malam dan perjalanan besok.

    Atas : Bagian dalam stasiun  Gare Strasbourg dan gereja cakep deket stasiun Galia
    Bawah : Kantor Parlemen Eropa dan stasiun Gare Strasbourg

    Day 2 : Alsace Wine Route

    Pagi ini kami memulai perjalanan menyusuri Alsace Wine Route yang sangat populer itu, rasanya tidak sabar untuk segera mengunjungi desa-desa cantik di antara kebun anggur. 


    Obernai

    Obernai adalah kota pertama yang kami singgahi. Sebelum memasuki kota ini kami melewati area ladang gandum yang baru selesai panen, warnanya kuning berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Berdiri disini serasa berada di atas di karpet emas. Baguuus banget... beda sama sawah-sawah abis panen di Indonesia.

    Sesudah parkir kami segera mencari kantor tourist info untuk mendapatkan peta gratis. Ternyata petanya harus beli. Males banget. Ngga habis akal gue cari brosur2 yang menawarkan tour baik yang jalan kaki maupun yang naik kereta2an semacam odong-odong yang ada peta rutenya. Kamipun memakai peta-peta gratisan tersebut untuk jalan-jalan mengexplore kota ini.


    Atas : Rumah 'Half Timbered' yang  berwarna ceria khas Alsace
    Bawah : Ladang gandum selesai panen dan kebun anggur
    Ngga sampai satu jam kami sudah selesai muterin kota ini. Ternyata pusat keramaiannya ada di sekitar Place du Marche (dekat tourism office) disitu ada sebuah lapangan yang dikelilingi bangunan half-timbered berwarna warni. Jalan-jalan di sekitar situ ramai oleh turis. Banyak restoran dan toko souvenir. Karena hari itu panas banget dan kami males ngadem di cafe atau restoran dikarenakan harganya yang tidak bersahabat dengan standar turis yang bergaji rupiah, kamipun cari toko roti, beli sandwich dan segera naik mobil ke atas bukit.

    Kami penasaran dengan sebuah salib raksasa di atas bukit yang terlihat dari segala penjuru Obernai. Sesudah kami sampai disana ternyata salib tersebut adalah monumen untuk mengenang jasa warga Obernai yang gugur di masa perang. Dari sini kami bisa memandang kota Obernai dari ketinggian dan jalan-jalan diantara kebun anggur. Tapi berhubung panasnya ngga kira-kira maka kami ngga lama-lama di sini, selesai makan sandwich, foto-foto, langsung cabut lagi menuju tujuan selanjutnya. 

    Haut-Koenigsbourg castle


    Alsace di masa lalu merupakan medan perang antara kerajaan-kerajaan maupun antara Perancis dan Jerman, Karena itu tidak heran kalau selama perjalanan kami melihat ada banyak benteng megah di atas bukit. 

    Didasari rasa ingin tahu maka kami putuskan untuk mengunjungi salah satunya. Dan terpilihlah benteng Haut-Koenigsbourg yang lokasinya di Orschwiller ngga jauh dari Obernai.

    Benteng ini berdiri di atas bukit dengan pemandangan yang indah. Bentuknya cantik mirip kastil negeri dongeng. Ruangan-ruangannya berisi perabotan kuno dan senjata-senjata sehingga kita mendapatkan gambaran mengenai kehidupan di dalam benteng di masa lalu. Benteng cantik ini sempat lama jadi reruntuhan dan terabaikan. Sampai sekarang proses restorasinya masih berlangsung.

    Ternyata bukan kami saja yang tertarik untuk mengunjungi benteng ini karena saat itu benteng ini rame banget sama turis, kebanyakan adalah keluarga-keluarga bule dan rombongan tour Jepang dan Tiongkok sehingga parkirnya pun panjaaang banget. Jalan kaki dari tempat parkir sampe ke benteng udah kayak hiking trip tersendiri.
    Atas : Pemandangan dari jendela benteng dan Pintu masuk benteng
    Bawah : Benteng terlihat dari depan dan salah satu meriam di dalam benteng
    Ribeauville
    Selesai dari benteng kami masih ada waktu untuk mengunjungi satu kota lagi. Dan kami putuskan kota tersebut adalah Ribeauville. Berbeda dengan Strasbourg dan Obernai, untuk masuk kota ini kami melewati kebun anggur di kiri kanan jalan, bener-bener terasa 'Wine Route'-nya. Tempat wisata yang kami tuju adalah Grand Rue.

    Seperti biasa kami mampir ke tourist info untuk mengambil peta gratis.Sebenarnya jalan di Grand Rue ngga butuh peta karena jalannya lurus doang, tapi peta yang kami dapat ini bermanfaat sekali karena mencantumkan info menarik tentang bangunan penting di sepanjang jalan.
    Seperti juga di kota lainnya di Alsace, bangunan kuno disini dijadikan toko-toko dan penginapan. Bedanya, di Ribeauville ini bangunannya lebih padat, penuh dekorasi dan lebih banyak bangau bersarang di cerobong-cerobong asapnya. Di ujung Grand Rue ada kebun anggur dilatarbelakangi bukit menjulang dengan sebuah benteng di atasnya. Dari situ kamipun putar balik.
    Suasana Grand Rue dan kebun anggur sejauh mata memandang
    Dan ternyata, hari itu 'heat wave' sedang melanda Eropa. Semua kota mencapai temperatur terpanas pol-nya. Gue aja yang hidup di negara tropis ngga kuat saking teriknya. Kami sempat dua kali duduk-duduk istirahat. Yang pertama di sebuah cafe, gue minum wine manis khas Alsace bernama Gewurztraminer dan yang kedua sebelum pulang, kami duduk-duduk makan es krim di depan sebuah air mancur di samping kantor tourist info.

    Jadi air mancur ini adalah sejenis pancuran kuno dengan patung seseorang di tengah-tengahnya dan airnya jatuh di kolam bulat setinggi perut orang dewasa, airnya dingin dan menyegarkan di hari yang super sumuk begini sehingga banyak turis mampir untuk sekedar cuci tangan atau cuci muka di air kolam tersebut. Lalu kami juga melihat ada waiter dari resto-resto sekitar situ mencuci lap kotor, trus ada juga orang yang membersihkan hidung mampet. Dan airnya dipake cuci muka lagi sama orang lewat.. hahaha.... sejak itu gue ngga tertarik sama kolam pancuran semacam gitu.


    Day 3Colmar

    Jika dibandingkan dengan Colmar, maka Obernai dan Ribeauville adalah desa kecil saja. Colmar mungkin sama besarnya dengan Strasbourg.

    Karena ini sudah hari ketiga kami di Alsace maka kota ini walaupun ngga kalah cantik dan menyenangkan tapi sudah ngga terlalu membuat gue antusias. Yang kami tuju disini malah sebuah bangunan bernama Market Hall, tujuannya adalah untuk cari makanan lokal yang menarik. Ternyata yang dijual disini lebih ke barang kebutuhan sehari-hari dan jadi tempat belanjanya warga lokal. Dan gue menemukan penjual makanan Vietnam, lalu pesan Pho Bo. Rasanya sih lumayan cuma temen gue kayaknya ngga cocok trus malah sakit perut, abis itu kami jadi agak repot cari toilet. Pengalaman buruk.

    Colmar terkenal karena merupakan kampung halaman Bartholdi, pembuat patung Liberty. Rumah kelahirannya dijadikan museum. Kita juga akan melihat ada replika patung liberty sebelum memasuki kota ini. Ya kalo di Indonesia semacam tugu selamat datang yang biasanya dilengkapi dengan baliho foto bupati pake seragam, hehehe.


    Atas : Suasana Colmar dengan bangunan-bangunan kuno half timbered yang cantik
    Bawah : Patung Liberty sebelum memasuki kota Colmar dan suasana di Market Hall

    Kesimpulan


    Kalo gue harus memilih kota mana yang paling direkomendasikan maka gue akan memilih Ribeauville karena selain areanya ngga terlalu luas sehingga bisa dikunjungi dalam satu hari, bangunan-bangunan kunonya pun lebih cantik karena dihiasi lebih banyak ornamen, lokasinyapun dikelilingi perbukitan penuh kebun anggur dan ada benteng di atas salah satu bukitnya menjadikan kota ini paling lengkap dengan ciri khas Alsace.

    Tapi bukan berarti gue ngga suka sama kota yang lain, Strasbourg juga layak dikunjungi karena Cathedral dan Barrack Vaubhannya, Benteng Koenigsburg juga gue rekomendasikan untuk dikunjungi. Sedangkan Obernai menurut gue ngga terlalu istimewa, cenderung boring. Yang membuat gue terkesan dengan Obernai malah pemandangan ladang gandumnya, hehehe...

    Tapi secara garis besar Alsace emang cantik banget

    Where we stayed :
    1. Comfort Inn, Strasbourg (49 Euro/night)
    2. F1 Hotel, Colmar (36 Euro/night)

    Minggu, Januari 17, 2016

    Hiking Grindelwald - Bachalpsee, secuil surga jatuh ke bumi.

    Kalau kita traveling ke Swiss, jangan cuma jalan-jalan di kota-kotanya aja sambil ngiler memandangi puncak gunung bersalju dari jauh. Rugi banget! Kita harus datang ke pegunungan Alpen karena Alpen adalah salah satu tempat terindah di dunia.

    Ada banyak banget lokasi yang bisa kita datangi di pegunungan Alpen, kita bisa pilih yang paling dekat dengan kota dimana kita berada karena hampir semua kota punya rute ke Alpen. Yang paling populer di kalangan turis Indonesia adalah Mt. Titlis .karena disitu selalu ada salju sepanjang tahun.

    Pegunungan Alpen ini ngga bisa diakses dengan kendaraan pribadi. Transportasi yang umum digunakan adalah kereta dan cable car atau disebut juga gondola, kalo mau ke tempat yang lebih terpencil (dan biasanya lebih indah) kita harus hiking. Mumpung gue traveling ke sini saat musim panas gue bertekad mau coba hiking ke Alpen... tapi rutenya jangan yang susah-susah.

    Berhubung gue akan memulai hiking dari Grindelwald maka alternatif tujuan hiking gue adalah area Jungfrau. Rute hiking di Grindelwald ini rata-rata relatif mudah sehingga  bisa dilakukan siapa aja. Ngga heran kalo pas summer begini kota Grindelwald dipenuhi penggemar hiking dari seluruh dunia. Mereka pada pake kostum naik gunung yang keren-keren lengkap dengan tongkat hiking. Gue lihat bahkan banyak juga kakek nenek yang jalannya jauh lebih kuat daripada gue.

    Dari semua alternatif yang ada gue memutuskan untuk pergi ke Bachalpsee (yang artinya : Danau Bachalp) karena di tujuan akhir nanti kita bisa melihat danau dengan latar belakang gunung bersalju. 

    Hiking trail Grindelwald - Danau Bachalp
    Dari tempat kemping kami naik bis kuning ke stasiun gondola Grindelwald - First, harga tiket naik gondola ini aslinya 59 CHF (sekitar Rp 750 ribu) tapi karena kami punya kupon diskon dari campsite jadi bayarnya cukup setengahnya aja, yah tetep mahal ya...
    Atas : Stasiun Gondola
    Bawah : View selama naik gondola
    Untuk alternatif yang lebih murah :
    - Kita bisa naik bis sesuai peta di atas sampai stasiun akhir lalu lanjut hiking ke Bachalpsee. 
    - Kalo kuat jalan nanjak kita bisa ambil jalan potong kompas mengikut jalur gondola, ada jalan setapak di bawah gondola.
    - Yang paling banyak dilakukan orang adalah membeli tiket gondola one way, pulangnya kita bisa hiking sampai ke desa yang dilalui bis.

    Tapi gue liat ada loh rombongan remaja Asia naik gondola pada bawa sepeda. Ada juga yang meluncur turun di jalan raya naik otoped.

    View sepanjang jalan
    Hiking dari First ke Bachalpsee sebenernya ngga berat sama sekali, jalannya relatif datar, udaranya sejuk dan pemandangannya kayak surga jatuh ke bumi.
    Bunga liar di Alpen
    Pemandangan selama hiking adalah puncak-puncak gunung bersalju yang sumpah keren banget, gue juga suka memperhatikan kalo di kanan kiri jalan ada aneka ragam bunga-bunga rumput bermekaran udah kayak karpet warna warni. Yang jadi hiburan selama hiking adalah kalo kita ketemu peternakan sapi. Berhubung setiap sapi disana dikasih kalung lonceng jadi kebayang gimana berisiknya klonengan rombongan sapi tersebut.
    Danau Bachalp
    Kami tiba di Danau Bachalp setelah jalan kaki sekitar dua jam dan ini termasuk lambat banget karena kami berhenti melulu buat motret, atau kadang duduk-duduk di bangku sambil menghirup udara pegunungan yang segar.


    Dan begitu gue sampai di danau Bachalp langsung deh cari posisi buat foto gila-gilaan saking girangnya dapet pemandangan kayak surga begini, dilanjutkan dengan duduk bengong mengagumi ciptaan Tuhan. Tuhan baik banget mengijinkan gue berada di tempat seindah ini dengan cuaca yang cerah pula. Terimakasih Tuhan.

    Tips Hiking di Swiss:

    • Pertama, cek prakiraan cuaca dan kalau masih ragu-ragu carilah info dari petugas. Gue baca ada turis yang terjebak badai dan hampir kesamber petir saat hiking di Alpen hanya karena ngga percaya info prakiraan cuaca, ternyata cuaca di Alpen ini bisa berubah cepat banget dari terang benderang menjadi badai.
    • Menggunakan pakaian dan sepatu yang nyaman.
    • Membawa bekal makanan dan minuman. Karena Swiss bukan Indonesia yang di segala pelosok mana pun bakal ada orang jual mie rebus dan air minum hehehe.,, Disini mah steril dari tukang jualan.
    • Kita ngga usah kuatir nyasar karena petunjuk arah sangat lengkap, tinggal ikuti jalan setapak aja. Jalannya pun dikasih pagar tali besi yang menghalangi pengunjung menerobos ke luar jalur.
    • Siap-siap ketagihan pengen balik lagi (hiks..)

    Grindelwald day trip: Lauterbrunnen, desa dengan 72 air terjun..

    Lauterbrunnen adalah nama desa tetangganya Grinderwald, lokasinya juga sama-sama berada di kaki tiga gunung : Mt. Eiger, Mt. Monch dan Mt. Jungfrau. Bedanya dengan Grindelwald, Lauterbrunnen ini dikelilingi tebing-tebing tinggi menjulang seperti tembok raksasa.

    Dan uniknya, di hampir setiap beberapa puluh meter kita bisa melihat ada air terjun mengalir di tebing-tebing tersebut, menurut info total ada 72 air terjun di desa ini. Ciri khas inilah yang membuat Lauterbrunnen terkenal.

    Air terjun Staubbach Falls dan Lembah Lauterbrunnen.
    Ini ilustrasi Rivendell Village yg ada di Film LOTR
     (source : rivendellvilage.org) Mirip kan?
    Lauterbrunnen bisa dicapai dengan kereta api dari Interlaken atau Grindelwald. Perjalanan kereta api dari Grindelwald ke Lauterbrunen memakan waktu sekitar 30 menit. Dari stasiun Lauterbrunen gue berjalan kaki sampai di ujung jalan, dan gue melihat Staubbach Falls, air terjun setinggi 300 m yang mengalir sepanjang tebing. Gue takjub banget, sampe bolak balik ngomong wowowowow...

    Tapi ini belum apa-apa, yang lebih menakjubkan dan yang menjadi tujuan utama gue ke Lauterbrunnen adalah Trummelbach Falls, air terjun glacier yang mengalir berkelak-kelok di dalam perut bumi. Lokasinya sekitar 3 km dari stasiun kereta, kalo kamu penyuka jalan kaki dan punya banyak waktu silakan dicoba.

    Trummelbach Falls
    Pengalaman yang sangat berkesan buat gue, bisa melihat air terjun glacier dengan debit sederas itu- dari dekat pula - di dalam perut gunung - yang gema suaranya sukses bikin deg-degan, tapi gue lebih takjub lagi liat pengelolaannya, sampe bisa ada jalan setapak di dalam perut bumi dan ada liftnya pula, Pantaslah harga tiketnya mahal karena biaya pembuatan dan pemeliharaan akses yang aman untuk turis ini pasti butuh biaya banyak.

    Dan lagi-lagi gue ngga heran kalo turis yang dateng mayoritas keluarga Arab hehehe...



    Kalau kamu familiar dengan cerita Lord of the Rings, JR Tolkien penulis novel tersebut ternyata terinspirasi oleh Lauterbrunnen saat menggambarkan keindahan Rivendell (lengkap dengan air terjunnya). 

    Tiket masuk ke Trummelbach Falls ini 12 CHF. Sesudah bayar tiket kita naik lift di terowongan dalam perut gunung, begitu keluar lift kita disambut suara gemuruh derasnya air terjun, trus dari situ kita berjalan mengikuti anak tangga masuk ke dalam gua mengikuti aliran air terjun ini, kadang jalannya agak becek dan licin karena cipratan air tapi ngga usah kuatir, kita bisa pegangan hand rail dan penerangannya cukup.

    Grindelwald budget accomodation : Tidur di Hostel vs Camping

    Hari sudah sore dan cuaca mendung saat kami tiba di Grindelwald, tapi walaupun cuaca mendung kami tetap terpesona dengan pemandangan di depan mata kami ini. Serius keren banget... Jika kami tidak harus segera menemukan campsite tempat kami akan menginap nanti malam, ingin rasanya puas-puasin foto-foto dulu.

    Ternyata agak sulit menemukan tempat camping kami karena lokasinya bukan di pinggir jalan utama padahal awan tebal sudah bergerak turun.

    Akhirnya kami kalah cepat , sebelum kami berhasil menemukan campsite hujan turun dengan deras sederas-derasnya. Kayaknya ngga mungkin juga kami memasang tenda di cuaca seperti ini, jadi kami masuk ke sebuah hostel di dekat stasiun kereta Grund. Namanya Mountain Hostel.


    Kamipun memutuskan untuk check in di kamar dormitory isi 4 bed . Kamarnya luas dan kalau kami buka jendela pemandangannya gunung Eiger. Hostelnya recomended baik dari segi lokasi, kebersihan, maupun kamar mandinya. Harga per malam 40 CHF (kira-kira Rp 600 rb) PER ORANG, pliss jangan bandingin sama harga hotel di tanah air...


    Begitu kami selesai taruh barang-barang bawaan di kamar, tiba-tiba cuaca berubah 180 derajat... hujan berhenti, matahari muncul dan langit cerah. Kamipun segera keluar hostel, eh jalanan juga udah kering gitu, ngga kelihatan seperti habis hujan deras. Dan ternyata campsite yang kami cari juga lokasinya ngga jauh dari situ... hahaha telat deh, udah telanjur bayar kamar...
    Grindelwald - sesudah hujan

    Atas : Sarapan sehat dan tampak depan Mountain Hostel
    Bawah : View dari jendela kamar (bisa melihat stastiun Grund dan Mt. Eiger), jalan-jalan sesudah hujan
    Di pagi harinya, gue merasa sangat bersyukur sudah menginap disini karena sarapan di hostel ini menyenangkan sekali, makanan dan minuman berjajar rapi boleh dimakan semampunya perut kita. Sesudah kenyang sarapan barulah kami ke tempat camping, mendirikan tenda dan bersantai sejenak menikmati area kemping.

    Camping di Eropa merupakan salah satu alternatif untuk menyiasati mahalnya harga hotel. Untuk menginap disini kita dikenakan biaya per orang 12 CHF ditambah bayar listrik, sewa kabel roll, dan sewa space tenda (17 CHF per tenda). Fasilitasnya lengkap, ada restoran, ruang makan dan yang gue suka, gedung tempat shower dan cuci terpisah antara cowok dan cewek . 

    Sebagai alternatif, tersedia juga caravan yang masing-masing dilengkapi  antena parabola buat nonton TV. Caravan ini dititipkan pemiliknya untuk disewakan melalui pengelola camping ground.


    Pagi hari di Camping ground.
    Atas : caravan (motorhome) yg disewakan. Bawah : tenda dan mobil parkir
    Gue perhatikan, ada beberapa pengunjung yang datang dengan mobil dan parkir disini. Di malam hari mereka tidur di dalam mobil, siangnya mereka duduk-duduk baca buku dibawah payung besar. Ada juga yang datang naik sepeda dan pasang tenda kecil banget pas badan.

    Antara satu pengunjung dengan yang lainnya benar-benar saling menjaga privacy, ngga ada yang berisik setel musik, ngga ada yang nyampah, kamar mandinya juga selalu ada yang kosong dan ngga ada yang meninggalkan sampah apapun termasuk plastik atau tissue di shower, padahal ngga selalu ditungguin petugas kebersihan. Duh kapan ya di Indonesia bisa kayak gini...


    Kesimpulan

    Tidur di tenda lebih murah dibanding hostel terutama kalau kita travelingnya rame-rame, tapi kalo satu saat gue mengulang traveling ke Swiss lagi gue akan memilih tidur di hostel saja. Kenapa? karena tidur di tenda itu, walaupun summer tetep dingin banget... suhu di malam hari drop sampai 3 derajat Celcius  padahal di siang hari bisa 30 derajat. Gue tidur sudah kayak buntalan karena semua baju dipake, plus jaket, selimut dll... tapi tetap kedinginan. Kelebihan lainnya, tinggal di  hostel itu sudah termasuk sarapan yang enak banget. Jadi saran gue : menabunglah dan tidur di hostel saja.

    Mountain Hostel

    Address: Grundstrasse 58, 3818
    Grindelwald, Switzerland

    Camping Eigernordwand

    Rudolf Jossi
    Bodenstrasse 4
    CH-3818 Grindelwald

    Grindelwald on a budget - 4 Tips jalan-jalan hemat di Grindelwald

    Pegunungan Alpen di Swiss adalah tempat  terindah yang pernah gue datangi (nomer dua sesudah Indonesia deh biar ngga kualat hehehe), gue selalu kepengen balik lagi dan lagi., Tapi sebagai turis sederhana cenderung kere gue tau diri bahwa traveling ke Swiss itu sangat-sangat ngga cocok buat gue. Syukurlah atas limpahan belas kasih Tuhan yang Maha Kuasa, gue diberi rejeki bisa traveling lagi ke Swiss, lebih tepatnya lagi ke Grindelwald yang sangat cantik luar biasa.

    Grindelwald adalah sebuah desa di area Bernese Oberland, desa ini berada di lembah yang dikelilingi Gunung Eiger, Monch dan Jungfrau, karena keindahannya tempat ini selalu penuh dengan turis, bahkan bis-bis tur pun banyak yang mampir kesini.

    Transportasi umum ke tempat ini adalah kereta dari Interlaken dengan perjalanan sekitar setengah jam. Ada 2 stasiun kereta di Grindelwald yang pertama stasiun Grindelwald (pusat kota) yang kedua stasiun Grund (letaknya di dasar lembah).


    1. Akomodasi

    Atas : Jalan utama Grindelwald dengan hotel-hotel di kiri kanan jalan dan Eigernordwand campsite
    Bawah : Chalet (villa) disewakan dan Mountain Hostel 
    Karena keterbatasan budget, selama di Grindelwald kami rencananya akan tidur di tenda tapi karena faktor cuaca akhirnya kami menginap di dua macam akomodasi yaitu di Mountain Hostel yang lokasinya pas di samping stasiun Grund, besoknya baru buka tenda di Eigernordwand Campsite.
    Ceritanya selengkapnya ada di posting selanjutnya.


    2. Transportasi

    Untuk jalan-jalan di Grindelwald, seperti juga kota-kota lain di Swiss, setiap tamu penginapan akan mendapatkan tiket gratis naik bis lokal Grindelwald dan kupon diskon 50% untuk naik cable car. Lumayan banget loh !

    3. Makan dan minum.

    Atas : Paket Breakfast di Migros Supermarket
    Tengah :  mie goreng instan buat bekal makan siang
    Bawah : Cheese Fondue di sebuah warung
    Nah ini yang paling berat... makanan di sini ngga ada yang murah. Gue pun menyiasati dengan masak sendiri atau beli makanan di supermarket. Makan di restoran bener-bener diminimalisir. Untuk air minum, gue minum air keran hehehe... Walaupun demikian gue tetap sempat beli makanan khas Swiss : cheese fondue di sebuah warung pinggir jalan.

    4. Aktivitas

    Kiri : view dari gondola (cable car)
    Kanan : hiking trail
    Ada banyak aktivitas yang bisa kita lakukan di Grindelwald, tapi yang wajib dilakukan adalah jalan-jalan ke pegunungan Alpen. Dan cara paling murah adalah hiking. Rute hiking pun ada banyak banget, tinggal googling dan pilih yang sesuai dengan kemampuan kita. Tapi untuk menghemat waktu dan tenaga kebanyakan orang mengkombinasikan dengan naik bis, kereta, atau gondola.

    Untuk diketahui rekan-rekan backpacker setanah air, harga tiket kereta, gondola bahkan bis di pegunungan Alpen ini mahal pake banget. Gue sendiri, memanfaatkan kupon diskon dan naik gondola dilanjutkan jalan kaki ke danau Bachalp. Ceritanya ada di posting selanjutnya.

    Buat orang Eropa aja Swiss itu negara yang sangat mahal. Jadi jangan heran kalo turis yang datang ke Grindelwald mayoritas malahan orang Arab dan Asia.

    Tapi jangan kecil hati, ngga semua yang datang ke sana adalah orang super kaya, banyak juga kok budget traveler kayak gue, di hostel gue ketemu banyak backpacker remaja, malah ada anak cewek Korea traveling sendirian. Sedangkan di campsite gue liat mayoritas penghuninya bule-bule tidur di tenda, banyak juga yang datang naik sepeda. Demi melihat keindahan pegunungan Alpen!

    So, there's a will there's a way. Semangka! (Semangat kaka...)

    Rabu, Juni 03, 2015

    Survey Gedung Bersejarah di Jakarta Pusat

    Awal tahun 2015 ini, pak Boss menugaskan gue untuk mencari lokasi yang oke untuk acara kantor, berada di sekitar Jakarta Pusat  dan yang penting harus di gedung-gedung bersejarah yang terawat. Jangan yang udah ancur-ancuran.

    Ide Pak Bos gue ini emang anti mainstream. Awalnya agak ragu juga, emang boleh ya musium-musium itu  dipinjem untuk umum. Sesudah gue survey ternyata boleh banget loh.... Dan tempatnya juga asik-asik. Ini beberapa tempat yang sempat kami survey :


    Kunstring Paleis.

    Jl. Teuku Umar No.1, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
    Telp. (021) 3900899

    Gedung tua yang terawat ini sekarang berfungsi sebagai restoran.Sebelumnya sempat bernama Buddha Bar sebelum berganti nama menjadi Kunstring Paleis. 

    Baru masuk aja kami sudah takjub dengan dekorasi ruangannya yang mewah bernuansa keemasan. Di pintu masuk menuju ruang dalam ada lukisan Presiden RI pertama Bung Karno sedang sungkem pada seorang wanita tua (ibunya ya?). So sweet...



    Lukisan Sukarno sungkem

    Berhubung hari masih pagi, restorannya masih sepi belum ada pengunjung sama sekali, hanya ada beberapa waiter yang beres-beres. Kami duduk manis di ruang tunggu menunggu mas resepsionis.

    Ngga lama, datanglah  si mas resepsionis memberikan daftar harga. Harga paket makan per orang minimal tiga ratus ribuan. Dan kalau kami ingin menggunakan private room harus menggunakan ruangan lantai atas. Kamipun dipersilakan untuk melihat ruangan di lantai atas, tapi berhubung petugasnya sibuk semua jadi ngga ada yang bisa nemenin. Kamipun naik sendiri dengan pedenya.


    Private Room lantai atas
    Salah satu pojok di ruang tunggu
    Di lantai atas ngga ada orang sama sekali. Suasananya remang-remang dan sunyi senyap. Dekorasi ruangannya seperti gambar di atas, tau-tau kok bulu kuduk gue meremang.... gue dan temen guepun liat-liatan.... Abis itu tanpa komando apapun kami berdua langsung ngibrit turun, segera ke tempat parkir dan masuk mobil. Di dalam mobil kami langsung ketawa bareng, dasar sama-sama penakut!


    Museum Perumusan Naskah Proklamasi
    Jl Imam Bonjol No 1
    Menteng - Jakarta Pusat

    Berlokasi di seberang Taman Suropati, museum ini sering banget gue lewati tapi ngga pernah terpikir untuk mampir. Museum ini dulunya rumah pejabat militer Jepang yang sangat ngehits di kalangan anak sekolah yang lagi belajar sejarah kemerdekaan Indonesia. Siapa coba namanya ?
    Apa? Kapten Tsubasa?
    Salah! Yang bener Laksamana Maeda.

    Suasana penulisan naskah proklamasi
    Di ruang makan rumah inilah, pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 4 subuh, Sukarno, Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo menuliskan naskah proklamasi yang selanjutnya diketik oleh Sayuti Melik.

    Di lantai atas ada display naskah proklamasi, radio perekam pembacaan proklamasi dan beberapa patung. Oiya, kita diijinkan mengadakan acara di tempat ini, syaratnya harus membuat surat ijin ke kepala museum. Kita diperbolehkan menggunakan teras belakang rumah dengan pemandangan lapangan rumput. Seperti ini :

    Halaman belakang

    Sayangnya di tanggal yang kami inginkan tempat ini sudah dibooking oleh sebuah instansi pemerintah untuk rapat mingguan. Ya sudah kami lanjut ke lokasi survey selanjutnya.

    (+) tempatnya bersih, muat sampai 30 orang, tersedia kursi lipat, homey banget.
    (-) panas (maklum di teras ngga ada AC)


    Gedung Arsip Nasional
    Jl Gajah Mada No 11140
    Jakarta Barat

    Gedung yang happening buat acara nikahan ini emang keren banget. Dari jauh aja bangunannya udah eye catching, sangat terawat dan halamannya luas. Ngga heran kalau gedung ini sering digunakan untuk acara-acara kedutaan asing saat mereka kedatangan tamu kenegaraan (Gue liat ada foto-foto acara kedutaan Amerika pas Hillary Clinton ke Jakarta, ada juga foto Pangeran Charles).
    Pintu Masuk

    Halaman belakang yang biasa buat kawinan

    Gedungnya terawat
    Sesudah foto-foto kamipun pulang menuju lokasi selanjutnya.

    (+) Gedung ini dikelola secara profesional, ruangannya luas mau outdoor atau indoor tinggal pilih.
    (-) Mihil bingit kalo untuk sekedar acara kantor.


    Museum Sumpah Pemuda
    Jl Kramat Raya 106
    Jakarta Pusat

    Diantara semua lokasi yang gue survey, Museum ini yang paling susah ditemukan karena lokasinya yang nyempil di antara keruwetan jalan Kramat Raya dan ditambah lagi dengan penampakan bangunannya yang biasa banget.

     Di pintu masuk kami mengisi buku tamu dan membeli tiket yang harganya murah banget. Sore itu kami adalah pengunjung nomor 3. Sedih banget ya yang datang sedikit...

    Suasana Kongres Pemuda
    Museum ini menceritakan tentang sejarah pergerakan pemuda Indonesia terutama saat Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang dilaksanakan di gedung ini. Juga menceritakan tentang anak-anak muda  tokoh pergerakan yang dulu kost di rumah ini.

    Biola WR Supratman
    Oiya, lagu Indonesia Raya pertama kali dinyanyikan saat penutupan Kongres disini, tentunya diiringi  alunan biola Wage Rudolf Supratman. Disini dipamerkan biola tersebut, juga foto-foto WR Supratman (keren ya orangnya?). Gue membayangkan beliau tuh  selebriti banget...
    Aula
    Halaman belakang
    Disini juga ada aula yang boleh digunakan pengunjung. Secara umum dibandingkan yang lainnya, gue paling suka museum ini. Displaynya Informatif dan menggugah semangat kebangsaan banget. Gue terharu melihat kegiatan anak-anak kost jaman tahun 20-an ini, kumpul-kumpulnya mikirin bangsa. 

    (+) Museumnya informatif dan menarik untuk dikunjungi.
    (-) tempat parkir sempit, museumnya kecil.



    Museum Gedung Joang
    Jl Menteng Raya No. 31
    Jakarta Pusat


    Gedung inilah yang akhirnya menjadi pilihan kami. Pertimbangannya semata-mata karena bangunannya yang photogenic, liat aja deh... di halaman depannya ada pilar-pilar dan anak tangga yang cocok buat bikin foto bersama. Kayak parlemen gitu loh maunya...

    Museum ini lebih nyaman dibanding yang lain. Semua ruangnya full AC. Koleksinya terdiri dari peralatan yang dipakai para pejuang Indonesia melawan penjajah, termasuk diantaranya adalah bambu runcing. Di halaman belakang gedung ada ruang kaca berisi dua buah mobil antik bersejarah yang dipakai oleh presiden RI pertama.

    (+) gedungnya cantik, parkir luas, lokasi strategis.
    (-) ngga ada aula, jadinya kami pakai halaman gedungnya aja.

    Sangat disayangkan ya museum-museum  ini sepi pengunjung. Mungkin kurang promosinya,  padahal isinya lumayan loh, membangkitkan rasa nasionalisme dan menambah pengetahuan. Untunglah, gue dapat tugas survey cari lokasi untuk acara di tempat kayak gini, gue jadi dapat pengalaman pernah mengunjungi museum-museum di Jakarta Pusat. Yah... minimal sekali seumur hidup.